Minggu, 21 Juni 2009

Wisata Religi Gresik Jawa Timur

Gresik adalah suatu kota yang berdiri di pesisir pantai. Pada jaman dulu Gresik merupakan tempat persinggahan para pedagang arab. Di Gresik inilah awal mula dari ajaran islam di Indonesia yang dibawa oleh seorang pedagang yang bernama Siti Fatimah Binti Maimun.

Gresik disebut juga sebagai kota santri, karena penduduknya mayoritas islam dan banyak berdiri pondok pesantren di kota Gresik ini. Selain itu di Gresik ada 5 Wali dari 9 Wali Songo yang dimakamkan di kota Gresik. Oleh karena itu untuk mempelajari Islam lebih dalam anda bisa mengunjungi kota Gresik.

:-::Makam Raden Santri::-:

raden santri

Raden Santri adalah tokoh islam seangkatan dan sekaligus kakak Raden Rachmat (Sunan Ampel). Selain itu beliau merupakan sepupu dari Maulana Malik Ibrahim. Beliau juga disebut Sunan Gresik atau Sayid Ali Murtadho yang dating ke Jawa menyertai ayahnya bernama Syech Ibrahim Asmorogondy untuk menyebarkan agama Islam.

Beliau kawin dengan Putri Madura dan mempunyai anak bernama Usman Haji, selanjutnya Usman Haji setelah dewasa juga meminang putri Madura dan mempunyai putra bernama Dja’far Sodiq atau dikenal dengan Sunan Kudus.

Sebagai tokoh panutan pada masanya, beliau bergelar ROJO PANDITO WUNUT. Raden Santri wafat pada tahun 1317 saka / 1449 M. Makam beliau termasuk makam islam kuno terletak di Desa Bedilan, tepatnya di Jalan Raden Santri, sekitar 100 m sebelah utara alun-alun kota Gresik, sehingga sangat mudah dijangkau. Haul beliau jatuh pada setiap tanggal 15 bulan Muharram.

:-::Makan Sunan Giri::-:

sunan giri

Sunan Giri di masa mudanya bernama Joko Samudro atau Raden Paku, kemudian diberi julukan oleh Sunan Ampel atau Raden Rachmat dengan nama Ainul Yaqin, merupakan putra dari Syekh Maulana Ishaq dengan putrid Raja Blambangan yang bernama Dewi Sekardadau.

Sunan Giri dikenal sebagai salah satu tokoh Wali Songo yang lahir pada tahun 1442 M. Beliau memerintah di Giri Kedaton dengan gelar Prabu Satmoto pada tahun 1487 – 1506 M.
Menurut cerita tutur, Sunan Giri sebagai ulama besar mempunyai pengaruh sangat kuat terhadap para wali lainnya, terbukti dari peran beliau menjadi hakim dalam perkara Syech Siti Jenar.

Sunan Giri wafat pada tahun 1428 saka atau 1506 Masehi dan dimakamkan di atas bukit di dalam cungkup berarsitek sangat unik. Makam Sunan Giri terletak di Dusun Giri Gajah Desa Giri Kecamatan Kebomas berjarak sekitar 4 Km dari pusat Kota Gresik. Kompleks makam yang ada di puncak Bukit Giri ini berada di tengah-tengah makam keluarga dan masyarakat Giri. Lokasi tersebut dapat dijangkau dengan mudah oleh transportasi umum, dan di kawasan tersebut tersedia lahan parker yang memadai, kios-kios aneka souvenir serta terdapat fasilitas penunjang berupa Masjid Giri.

:-::Makam Sunan Prapen::-:

sunan prapen

Sunan perapen adalah penerus dinasi Giri keempat. Menurut cerita tutur, Sunan Prapen adalah seorang pujangga besar penggubah kitab ASRAR yang kemudian digunakan sebagai dasar menyusun Jongko Joyoboyo. Di samping itu beliau juga seorang empu (pembuat keris) yang salah satu karyanya terkenal dengan nama keris Suro Angun-angun.
Pada masa Sunan Prapen inilah Giri mengalami masa kejayaan.

Menurut VOC Sunan Prapen sebagai Paus Islam, atau Raja Imam yang mempunyai peran dalam memberikan berkah kepada raja-raja Demak dan Pajang yang baru dinobatkan.
Beliau memiliki pengaruh besar sampai ke Kalimantan, Sulawesi dan Lombok.
Makam Sunan Prapen terletak di Desa Klangonan Kecamatan Kebomas sekitar 400 m di sebelah barat Makam Sunan Giri, dalam sebuah cungkup berarsitektur unik dengan ukiran bernilai seni tinggi.

Makam tersebut terletak satu kompleks dengan makam penguasa Giri berikut, antara lain:
- Panembahan Kawis Guwo (Putra Sunan Prapen)
- Panembahan Agung (Putra Panembahan Kawis Guwo)
Sunan Prapen wafat pada tahun 1605 M, sedangkan haul Sunan Prapen jatuh pada setiap tanggal 15 Syawal.

Keistimewaan makan Sunan Prapen, pada trap jalan menuju makam terdapat sebuah “watu dodok” yaitu batu rata di tengah trap yang diyakini sebagai orang bahwa bagi pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak dapat segera mendapat keturunan apabila duduk berduaan di batu itu.

:-::Petilasan Giri Kedaton::-:

Menurut sumber-sumber sejarah tradisional, petilasan ini merupakan kedaton (istana) yang kemudian dikenal dengan sebutan GIRI KEDATON. Giri Kedaton didirikan oleh Sunan Giri pada tahun 1487 M. Dipilihnya lokasi tersebut sebagai Kedaton Giri berdasarkan petunjuk Syekh Maulana Ishaq (Ayah Sunan Giri) atas dasar kesamaan segenggam tanah yang dibawa dari Samudra Pasai.

Petilasan ini banyak didatangi orang sebagai tempat bermunajad, terletak di puncak bukit dngan tanjakan yang relatif curam. Menurut cerita, tempat ini merupakan pengukuhan Raja-raja Islam Demak sampai Pajang. Di tempat ini pula dibangun Masjid dan Pondok Pesantren pertama di Giri, yang kini kesemuanya hanya nampak bekas-bekasnya, termasuk kelengkapan kedaton lainnya berupa batu pelinggihan, kolam wudhu dan dinding pagar kuno.
Petilasan ini terletak di kelurahan Sidomukti Kecamatan Kebomas, sekitar 200 m sebelah selatan makam Sunan Giri

:-::Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim::-:

MAULANA MALIK IBRAHIM dilahirkan di negeri Campa (Kamboja) beliau dari keturunan ulama dan penyiar agama Islam dan yang berjasa bagi umat Islam. Sejak kecilnya mendapat pendidikan agama dan da'wah islam dari ayahnya sendiri (BAROKAT ZAINUL ALAM).

Demikian juga nenek beliau adalah ulama-ulama dan perintis da'wah Islam dari negeri Arab kemudian ke timur ke negeri-negeri Pakistan, India, Malaysia dan Kamboja, dan menetap di sana adalah DJAMALUDIN AL-AKBAR AL-HUSAINI.

Dari kecil Maulana Malik Ibrahim adalah seorang yang cerdas dan alim serta berwatak mulia dan tabah meskipun dalam usianya yang masih muda, beliau adalah seorang yang bijaksana lagi pula berpandangan jauh.

Kemudian sesudah mendapat didikan agama yang tinggi dan tata cara kesopan-santunan dari ayahnya, kemudian pada waktu abad XIII Masehi (801 Hijriah) oleh ayahnya beliau ditugaskan untuk menjalankan da'wah Islam menuju ke Asia Tenggara.

Dengan hati yang tabah beliau dengan kawan-kawannya berangkatlah dengan perahu layer serta membawa barang-barang dagangan untuk bahan perkenalan pada daerah yang akan dikunjunginya. Maka berangkatlah beliau dengan kawan-kawannya dengan perahu layar, melintasi samudra yang luas deburan ombak yang begitu dasyatnya disamping terik matahari yang sangat panas maupun hujan lebat diiringi angin taufan yang keras, namun beliau dalam perjalanan tak pernah mengeluh dan berputus asa bahkan tetap bertekat bulat untuk mencapai maksud dan tujuan satu ialah menjalankan da'wah Islamiyah ke pulau Jawa. Karena itu segala kesulitan dalam perjalanan yang sangat berat itu beliau anggap ringan saja.

Dan akhirnya sampailah tujuannya dipelabuhan Gresik. Justru itulah pelabuhan Gresik merupakan salah satu yang cukup besar pada saat itu di Asia Tenggara dan salah satu Bandar Kerajaan Majapahit.

PERMULAAN BELIAU TIBA DI KOTA GRESIK

Setelah beliau mendarat di kota Gresik dengan kawan-kawannya memilih tempat di sebuah desa di luar kota yang bernama desa ”LERAN” (antara 9 Km sebelah barat kota Gresik).

Maka di desa itulah beliau mulai menjalankan da'wah Islam pada tahun 801 H/ tahun 1392 M. Di samping itu beliau membuka took di desa Romo (3 Km sebelah barat kota Gresik). Dengan memperkenalkan barang-barang bawaannya kepada masyarakat setempat dan ingin juga beliau mempelajari bahasa daerah pada masyarakat di desa itu demi mempermudah dan ingin lancarnya untuk menjalankan da'wahnya.

Maka dengan waktu yang singkat saja, beliau sudah dapat menyesuaikan diri pada masyarakat setempat baik dalam menghadiri upacara-upacara perkawinan dan sebagainya.

Bahkan beliau menjadi juru perdamaian apabila menemui masyarakat yang berselisih antar sesamanya. Untuk itu beliau terkenal dan disegani oleh masyarakat setempat dan sekitarnya, karena besar kewibawaannya, luhur budinya dengan Taufik dan Hidayah Allah SWT sehingga satu persatu mengenal dan memeluk agama Islam sebagaimana yang diajarkan oleh beliau. Dan sejak mereka itu memeluk agama Islam terlihatlah banyak perbedaan-perbedaan budi pekerti maupun dengan tata cara tentang kebersihan pakaian kalau dibandingkan pada sebelumnya

:-::Makam Nyai Ageng Pinatih::-:

nyai ageng pinatih

Nyai Ageng Pinatih merupakan tokoh wanita Islam, karena beliau adalah ibu angkat yang mengasuh dan membesarkan sekaligus mendidik Raden Paku / Sunan Giri.
Pada jaman Majapahit, Nyai Ageng Pinatih adalah seorang saudagar kaya yang sangat dihormati oleh Raja, terbukti dari pengangkatannya sebagai Syah Bandar Gresik.

Pada umumnya, para peziarah merasa kurang afdhol apabila di makam Sunan Giri tanpa ke makam ibu angkatnya. Makamnya terletak di tengah kota Gresik, tepatnya di Desa Kebungson berjarak sekitar 300 m sebelah utara alun-alun Kota Gresik.
Nyai ageng Pinatih wafat pada tahun 1483 M. haul beliau jatuh pada tanggal 12 bulan Syawal. Beliau sangat masyhur (terkenal) sebagai saudagar yang memiliki sejumlah armada kapal sebagai sarana perdagangan antar pulau dan luar negeri

:-::Makam Siti Fatimah Binti Maimun::-:

Tokoh ini dikenal pula dengan sebutan “PUTRI RETNO SUWARI”. Putra Sultan Mahmud Syah Alam dari Negeri Kamboja ini dengan ikhlas menyediakan dirinya sebagai wanita persembahan untuk mengislamkan Raja Majapahit yang beragama Hindu.
Menurut data sejarah, Leran adalah pesisir utara Pulau Jawa menjadi tempat pertama bermukimnya para perantauan dari Cina, terbukti adanya sisa-sisa kehidupan Bandar abad 10 – 15 M dengan sebutan situs pasucian. Di desa ini terletak Makam Siti Fatimah Binti Maimun, menurut data archeology merupakan makam Islam tertua di Asia Tenggara.

Model makamnya sangat unik, karena berbentuk cungkup dengan dinding dan atapnya terbuat dari batu putih kuno. Kalaupun arsitektur cungkup makam beliau mirip dengan bentuk candi, konon ceritanya cungkup tersebut memang dibangun oleh Raja Majapahit untuk menebus perlakuannya yang kurang bersahabat terhadap utusan Raja Kamboja, padahal ternyata bermaksud baik.

Haul Makam Leran jatuh pada tanggal 15 syawal. Makam ini terletak di Desa Leran Kecamatan Manyar di tepi jalan Daendeles (jalan pantai utara jawa) berjarak sekitar 7 Km dari sebelah barat laut Alun-alun kota Gresik, sehingga sangat mudah dijangkau dengan transportasi umum.

Masjid pertama di desa itu didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim sebagai syiar agama Islam. Masjid tersebut mempunyai keistimewaan dengan adanya kolam tempat berwudlu yang dinamakan PESUCIAN. Sampai sekarang masih dipercaya sebagian orang bahwa airnya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

:-::Makam Kanjeng Puspo Negoro::-:

makam

Makam Puspo Negoro adalah Bupati pertama yang merupakan sosok penguasa yang mempunyai peran sangat besar terhadap pengembangan agama Islam di Gresik.

:-::Makam Kanjeng Sepuh::-:

Terletak di Desa Kauman Kec. Sidayu berjarak +/- 28 Km dari Kota Gresik melalui jalur Pantura, Gresik – Tuban.
Pada Tahun 1817 seorang bernama Raden Adipati Suryodiningrat, Putra Sayid Abdur Rohman Sinuwun Solo dinobatkan menjadi Bupati di Sidayu, dengan gelar Kanjeng Sepuh Sidayu, karena Alim dan Sakti serta keichlasan beliau sehingga mendapat julukan seorang Bupati dan Wali.

:-::Kawasan Wisata Bukit Surowiti::-:

Petilasan Pertapaan Sunan Kalijaga

Kawasan wisata bukit surowiti (Petilasan Pertapaan Sunan Kalijaga) adalah sebuah perkampungan kecil yang dihuni oleh +/- 100 rumah tangga, berlokasi di atas bukit yang terjal dengan luas +/- 5 ha. Dengan ketinggian 260 m dari permukaan laut, terletak di Desa Surowiti, Kecamatan Panceng yang berjarak +/- 40 km dari kota Gresik melalui Jalan Pantura Gresik – Tuban atau +/- 3 Km dari Jalan Raya Panceng. Adapun obyek-obyek yang dapat dikunjungi dalam kawasan wisata tersebut:

a. Petilasan Kali Buntung

Di kaki bukit Surowiti terdapat sebuah telaga dan pada tepi telaga ditumbuhi rumpun bamboo. Menurut cerita tutur tempat tersebut pada jaman dahulu merupakan seungai anak Bengawan Solo, yang merupakan tempat R. Sahid (nama asli Sunan Kalijaga) bertapa dan menjaga tongkat Sunan Bonang yang tertancap di tepi sungai (Kali Buntung), akhirnya tongkat tersebut menjadi rerumputan bamboo. Oleh karena itu petilasan tersebut merupakan asal-usul dari sebutan “Sunan Kalijaga” artinya Sunan Penjaga Sungai.

b. Makam Mpu Supa

Menurut cerita penduduk setempat, tempat tersebut merupakan Makam Mpu Supa Mandrangi atau juga disebut Pangeran Sedayu, yaitu seorang “Mpu Linuwih” pada jaman Majapahit. Karya besar beliau berupa Keris Sengkelat, yang merupakan Pusaka tersohor kesaktiannya pada kejayaan Majapahit.
Mpu Supa merupakan adik ipar Sunan Kalijaga dan sekaligus santi Sunan Kalijaga. Banyak orang berziarah ke tempat ini terutama untuk mencari kesaktian dan mencari pusaka (keris).
Di dekat makam Mpu Supa terdapat Goa Macan, yang konon ceritanya sebagai macan peliharaan Ki Singo Wongso (cikal bakal orang Surowito).

c. Makam R. Bagus Mataram

Menurut cerita tutur R. Bagus Mataram adalah seorang punggawa kerajaan Mataram yang kaya. Kemudian meninggalkan Mataram dengan membawa barang kekayaannya menutu Surowiti untuk berguru (nyantri) ke Sunan Kalijaga. Banyak orang yang dating ke tempat ini untuk mencari berkah terutama dalam hal rejeki dan kekayaan.

d. Petilasan Tapa Nguweng (Tapa Kubur) Sunan Kalijaga

Menurut cerita rakyat, tempat ini bekas petilasan Sunan Kalijaga ketika menggembleng diri dengan bertapa ‘nguweng’ atau bertapa dengan mengubur diri seperti orang meninggal.
Banyak orang dating ke tempat ini untuk mencari berkah terutama dalam hal derajat, pangkat dan jabatan.

e. Goa Langseh

Goa ini mempunyai 2 ruangan, yaitu ruang atas dan ruang bawah. Menurut cerita rakyat setempat, ruangan goa yang di bawah dipergunakan Sunan Kalijaga bertapa, sedangkan ruang yang atas ada seperti lantai dari batu berbentuk bulat besar, yang konon tempat ini digunakan sarasehan (pertemuan) para walisongo. Dan di atas goa terdapat tanah datar yang dulunya merupakan tempat latihan olah kanuragan para Santri Sunan Kalijaga. Di dalam ruangan goa yang di bawah ada tetesan air yang tersimpan (dalam suatu tandon kecil), dahulu dipergunakan untuk wudlu, dan sampai sekarang tetasan air itu masih ada, namun kecil. Ada sebagian orang yang percaya bahwa air tersebut sangat bertuah dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Obyek-obyek tersebut berada dalam satu lokasi yang saling berdekatan, sehingga mudah dijangkau dalam waktu yang relatif singkat.
Di kawasan tersebut di samping terdapat obyek-obyek di atas, juga mempunyai panorama yang indah terutama dari atas bukit kita dapat melihat pemandangan laut serta bukit dan hutan yang ada di sekitarnya. Dan pada bulan besar / Dzulhijjah, hari kamis minggu terakhir dilaksanakan upacara tradisi sedekah bumi, di atas bukit tersebut.

:-::Kampung Kemasan::-:

Nama kemasan di sini masih ada hubungannya dengan status suatu kelompok masyarakat tertentu yang konon ceritanya dari kelompok atau marga “kemas”. Hal ini dapat dilihat dari bangunan-bangunan rumah tempat tinggal kelompok tersebut di daerah kemasan yang bergaya Eropa dan Cina. Gaya Eropa dapat dilihat dari pilar-pilar penyangga atap, jendela dan pintu relatif besar. Sedangkan bergaya Cina dapat dilihat pada atap dan pemakaian warna serba merah.

Sejak didirikan bangunan-bangunan rumah tersebut pada tahun 1909, sejak itulah kompleks ini dinamakan Kampung Kemasan. Kampong ini terletak di Jalan Nyai Ageng Arem-arem Gang III. Obyek yang diamati berupa bangunan-bangunan rumah tinggal terletak di kiri dan kanan gang tersebut sepanjang 200 m. Bangunan rumah tersebut masih terawat dengan baik, karena masih ditempati sebagai rumah tinggal dan bagian atasnya dimanfaatkan untuk budidaya Burung Walet. Untuk sampai ke kampung kemasan tersebut, dari Alun-alun Kota Gresik hanya berjarak sekitar 700 m. Dari Terminal Bus Bunder dapat ditempuh dengan transportasi angkutan umum sejauh 6 Km, menuju Aloon-aloon kota atau depan kantor lama PLN Cabang Gresik, selanjutnya mengikuti petunjuk arah masuk Kampung Kemasan.

:-::Goa Gelang Agung::-:

Goa Gelang Agung terletak di Desa Melirang Kec. Bungah dan jarak antara Desa dari Jl. Raya Bungah – Dukun berjarak +/- 600 m. Goa ini mempunyai mulut yang sangat lebar dan tinggi dengan bagian dalam yang melingkar seperti gelang dan dapat menembus di beberapa tempat yang lain.

Goa ini mempunyai panjang kira-kira 4 km dan mempunyai pemandangan seperti pada goa yang lain yang terdiri dari stalaktit dan stalakmit juga dengan batuan kapur yang masih muda.



Related Article:

0 komentar:

Poskan Komentar


 

Footer Widget #1

Footer Widget #2

Footer Widget #3

free counters

Footer Widget #4

Copyright 2010 Wisata Jawa Timur. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog